Siang ini benar-benar bolong. Cuaca tak bersahabat siang itu menghambat saya keluar rumah. Apa daya cuma televisi satu-satunya harapan saya mencari setetes hiburan.
Namun, acara televisi dirasa semakin tak bermutu. Padahal, satu per satu stasiun baru bermunculan. Jakarta, misalnya, kini sudah dua stasiun baru muncul. Satu stasiun sudah mulai menayangkan acara-acara bernuansa oriental. sedangkan satu stasiun lainnya masih menayangkan siaran percobaan. Itu pun baru beroperasi dari pukul 16.00-20.00 WIB.
Maka, jadilah saya terperangkap dengan benda persegi empat di depan saya. Tapi saya tetap berusaha mencari tetes hiburan itu. Dengan frekuensi tetap, saya pun menekan tombol plus pada remote TV. Saluran 1, saluran 2, 3,4, dan seterusnya. Hingga berhentilah saya pada sebuah tayangan. Bukan film, berita, apalagi sinetron.
Sebenarnya, ini bukan tayangan baru. Satu tahun yang lalu saya pernah juga melihat tayangan ini. Namun, decak-kagum saya tak jua berubah. Saya tetap terpesona melihat lima perempuan itu berjalan, menaiki tangga, dan melontarkan tombak, panah, dan senjata lain yang mereka genggam. Sekilas langit pun menjadi terang oleh kilatan senjata mereka. Kilatan cahaya itu bersatu dan doarr… Muncullah rangkaian kata:
“Selamat Natal dan Tahun baru.”
Mungkin, Anda sudah ingat sekarang tayangan apa yang saya maksud. Yup, ini hanyalah iklan ucapan tahun baru dari sebuah produk rokok berinisial GG. Kekaguman saya bukan hanya pada berapa kira-kira biaya yang dikeluarkan GG, tapi juga terhadap konsep iklan yang sangat Indonesia (sekali). Ini menurut padangan saya loh.
Sampai-sampai di awal pemunculan iklan ini, saya mengira ini adalah iklan pariwisata Indonesia. Sejenak saya bangga menjadi perempuan Indonesia. Saya salut terhadap kesungguhan dinas pariwisata dalam mempromosikan keeksotisan Indonesia. Tapi saya ulangi, itu hanya sejenak. Ketika muncul logo produsen GG, luruhlah kesalutan itu.
Saya tidak kecewa dengan apa yang dilakukan GG. Justru saya acungkan empat jempol untuk para pekerja kreatif dibalik iklan berdurasi cukup lama tersebut. Jika jari saya jempol semua, malah saya akan acungkan keduapuluh-duapuluhnya.
Saya hanya merasa sedikit sedih terhadap departemen Pariwisata dan Kebudayaan Republik ini. Kesedihan saya ini tidak lantas muncul setelah mengetahui siapa pemilik iklan ciamik itu. Rasa itu timbul baru-baru ini saja, yaitu ketika saya menyaksikan rangkaian iklan pariwisata dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.
Tidak banyak perubahan antara iklan pariwisata buatan dulu dan sekarang. Perubahannya, kini wajah Jero Wacik selalu muncul di akhir. Persamaannya, keduanya sama-sama menampilkan keindahan alam Indonesia dengan menyomot sana-sini klip yang sudah ada. Bukan mengambil gambar langsung dari lapangan. Apakah sebegitu buruknya muka alam Indonesia kini?
Malah ada satu bagian yang menampilkan segerombolan wisatawan yang gembira berada di objek wisata ‘tempelan’. Maksudnya, pengambilan gambar gerombolan wisatawan diambil terpisah dengan background-nya. Keduanya disatukan dalam proses pengeditan. Penyatuan ini tidak jadi masalah jika diedit secara halus. Namun tidak demikian dengan editing iklan pariwisata ini.
Kejernihan dan cahaya tiap gambar menjadi kontras. Ada yang cahayanya terang. Ada pula yang gambarnya pudar. Dari satu shot ke shot lainnya menjadi tidak sinkron. Alhasil, iklan terkesan murahan. Otomatis, ‘produk’ yang ditawarkan iklan tersebut terkesan murahan pula. Namun, murahan bukan berarti lowbudget, melainkan dari kualitasnya.
Kualitas gambar seperti ini mengingatkan saya pada kenangan menonton TV semasa kecil. Mungkin, beberapa di antara kita masih ingat apa yang terjadi ketika jam siaran sebuah stasiun—saat itu TVRI—sudah habis. Gambar pesona alam Indonesia muncul bergantian, dari mulai gambar flora, fauna, tarian, pemandangan, dan sebagainya. Ketika lagu ‘melambai’ yang menjadi backsound selesai, selesai pula gambar-gambar tersebut.
Kekurangan inilah yang masih dengan mudah ditemukan dalam setiap iklan bertajuk budaya maupun pariwisata Indonesia. Baik iklan yang dibuat dulu hingga iklan yang dibuat pada zaman canggihnya teknologi cinematography seperti sekarang.
Tiba-tiba saya merasa kalah. Iklan pariwisata Malaysia, truly Asia (dibaca: malingsia, truly maling Asia) bisa begitu semarak dan menarik. Tentu dengan kualitas editing yang halus pula. Apalagi dalam iklan tersebut, ada artis cantik asal INDONESIA yang terlihat sangat bahagia dan mengajak segenap penonton TV di Indonesia untuk datang ke Malaysia.
Jadi mestinya Malaysia jangan pusing-pusing kalau banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tertarik bekerja di sana. Malah ada juga TKI yang bela-belain menyelundup jadi TKI illegal. Berarti iklan pariwisata encik berhasil ‘kan?
Nita

