25 Desember 2007

1-0 untuk Malaysia


Siang ini benar-benar bolong. Cuaca tak bersahabat siang itu menghambat saya keluar rumah. Apa daya cuma televisi satu-satunya harapan saya mencari setetes hiburan.

Namun, acara televisi dirasa semakin tak bermutu. Padahal, satu per satu stasiun baru bermunculan. Jakarta, misalnya, kini sudah dua stasiun baru muncul. Satu stasiun sudah mulai menayangkan acara-acara bernuansa oriental. sedangkan satu stasiun lainnya masih menayangkan siaran percobaan. Itu pun baru beroperasi dari pukul 16.00-20.00 WIB.

Maka, jadilah saya terperangkap dengan benda persegi empat di depan saya. Tapi saya tetap berusaha mencari tetes hiburan itu. Dengan frekuensi tetap, saya pun menekan tombol plus pada remote TV. Saluran 1, saluran 2, 3,4, dan seterusnya. Hingga berhentilah saya pada sebuah tayangan. Bukan film, berita, apalagi sinetron.

Sebenarnya, ini bukan tayangan baru. Satu tahun yang lalu saya pernah juga melihat tayangan ini. Namun, decak-kagum saya tak jua berubah. Saya tetap terpesona melihat lima perempuan itu berjalan, menaiki tangga, dan melontarkan tombak, panah, dan senjata lain yang mereka genggam. Sekilas langit pun menjadi terang oleh kilatan senjata mereka. Kilatan cahaya itu bersatu dan doarr… Muncullah rangkaian kata:

Selamat Natal dan Tahun baru.”

Mungkin, Anda sudah ingat sekarang tayangan apa yang saya maksud. Yup, ini hanyalah iklan ucapan tahun baru dari sebuah produk rokok berinisial GG. Kekaguman saya bukan hanya pada berapa kira-kira biaya yang dikeluarkan GG, tapi juga terhadap konsep iklan yang sangat Indonesia (sekali). Ini menurut padangan saya loh.

Sampai-sampai di awal pemunculan iklan ini, saya mengira ini adalah iklan pariwisata Indonesia. Sejenak saya bangga menjadi perempuan Indonesia. Saya salut terhadap kesungguhan dinas pariwisata dalam mempromosikan keeksotisan Indonesia. Tapi saya ulangi, itu hanya sejenak. Ketika muncul logo produsen GG, luruhlah kesalutan itu.

Saya tidak kecewa dengan apa yang dilakukan GG. Justru saya acungkan empat jempol untuk para pekerja kreatif dibalik iklan berdurasi cukup lama tersebut. Jika jari saya jempol semua, malah saya akan acungkan keduapuluh-duapuluhnya.

Saya hanya merasa sedikit sedih terhadap departemen Pariwisata dan Kebudayaan Republik ini. Kesedihan saya ini tidak lantas muncul setelah mengetahui siapa pemilik iklan ciamik itu. Rasa itu timbul baru-baru ini saja, yaitu ketika saya menyaksikan rangkaian iklan pariwisata dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.

Tidak banyak perubahan antara iklan pariwisata buatan dulu dan sekarang. Perubahannya, kini wajah Jero Wacik selalu muncul di akhir. Persamaannya, keduanya sama-sama menampilkan keindahan alam Indonesia dengan menyomot sana-sini klip yang sudah ada. Bukan mengambil gambar langsung dari lapangan. Apakah sebegitu buruknya muka alam Indonesia kini?

Malah ada satu bagian yang menampilkan segerombolan wisatawan yang gembira berada di objek wisata ‘tempelan’. Maksudnya, pengambilan gambar gerombolan wisatawan diambil terpisah dengan background-nya. Keduanya disatukan dalam proses pengeditan. Penyatuan ini tidak jadi masalah jika diedit secara halus. Namun tidak demikian dengan editing iklan pariwisata ini.

Kejernihan dan cahaya tiap gambar menjadi kontras. Ada yang cahayanya terang. Ada pula yang gambarnya pudar. Dari satu shot ke shot lainnya menjadi tidak sinkron. Alhasil, iklan terkesan murahan. Otomatis, ‘produk’ yang ditawarkan iklan tersebut terkesan murahan pula. Namun, murahan bukan berarti lowbudget, melainkan dari kualitasnya.

Kualitas gambar seperti ini mengingatkan saya pada kenangan menonton TV semasa kecil. Mungkin, beberapa di antara kita masih ingat apa yang terjadi ketika jam siaran sebuah stasiun—saat itu TVRI—sudah habis. Gambar pesona alam Indonesia muncul bergantian, dari mulai gambar flora, fauna, tarian, pemandangan, dan sebagainya. Ketika lagu ‘melambai’ yang menjadi backsound selesai, selesai pula gambar-gambar tersebut.

Kekurangan inilah yang masih dengan mudah ditemukan dalam setiap iklan bertajuk budaya maupun pariwisata Indonesia. Baik iklan yang dibuat dulu hingga iklan yang dibuat pada zaman canggihnya teknologi cinematography seperti sekarang.

Tiba-tiba saya merasa kalah. Iklan pariwisata Malaysia, truly Asia (dibaca: malingsia, truly maling Asia) bisa begitu semarak dan menarik. Tentu dengan kualitas editing yang halus pula. Apalagi dalam iklan tersebut, ada artis cantik asal INDONESIA yang terlihat sangat bahagia dan mengajak segenap penonton TV di Indonesia untuk datang ke Malaysia.

Jadi mestinya Malaysia jangan pusing-pusing kalau banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tertarik bekerja di sana. Malah ada juga TKI yang bela-belain menyelundup jadi TKI illegal. Berarti iklan pariwisata encik berhasil ‘kan?


Nita



20 Desember 2007

Majnun yang Benar-benar Majnun

Dengan langkah terseok-seok, Majnun mengarungi kota hingga gurun sambil mengidungkan syair-syair cinta dan patah hati। Air matanya pun tak henti-hentinya terurai mengiringi bait demi baitnya. Tak sedikit orang yang merasa iba. Tak sedikit pula yang merasa hina. Tapi, laki-laki itu tidak peduli apa kata orang-orang tersebut. Karena sesungguhnya, ia merasa telah binasa oleh api cintanya, Laila.

Di belahan gurun pasir lain, Laila pun tak jauh berbeda। Ia juga telah menjadi gila. Dalam limpahan harta dan kasih sayang, ia merasa percuma karena sang kekasih jauh dipangkuannya. Tak seorang pun tahu derita Laila. Derita itu terselip indah di balik senyumnya yang konon mampu menaklukan sebuah negeri. Namun, Laila memilih pedih kobaran api cintanya, Majnun.

Kegilaan Majnun dan Laila bukanlah karena cinta, tapi karena logika orang-orang di sekitarnya। Logika yang memandang cintanya adalah aib। Logika yang lebih memilih untuk memisahkan mereka, bukan mepersatukan dalam ikatan yang lebih indah, walimah. Ironisnya, Logika itu malah menjadi tabir dua insan yang saling mencinta. Dan, Logika itu pulalah yang mengantarkan kisah kasih abadi ini di rak-rak buku kita. Laila Majnun.

Laila Majnun merupakan epik yang melegenda di bangsa Arab। Cerita ini turun-temurun dan terus hidup, tanpa tahu siapa yang melahirkannya. Sehingga, kisah percintaan ini berkembang dalam berbagai versi: prosa, puisi, dan lagu. Bahkan konon, kisah romantis Romeo and Juliet yang merupakan buah pikiran Shakespear ini juga terilhami oleh ketragisan kisah cinta Laila Majnun.

Agar terabadikan, kisah Laila Majnun ini dibukukan pada abad kedua-belas atas titah seorang raja Kaukasia, Shirvanshah। Ia memerintahkan seorang penulis yang dikenal sebagai ‘penyihir’ keelokan kata-kata terhebat di dunia. Ia adalah Nizami Ganjavi, seorang sufi asal Persia.

Nizami menyirami kisah Laila Majnun dengan gaya bahasa yang melangit sekaligus menjuntai ke tanah। Buku ini pun menjadi subur akan ungkapan-ungkapan yang menyentuh, indah, dan konotatif। Sehingga, pembaca akan terhanyut oleh ombang-ambing emosi tokoh-tokohnya. Walaupun syarat akan makna konotatif, buku ini tetap ringan untuk dicerna dan sangat cocok untuk dibaca kapan saja. Di sela-sela kepadapatan aktivitas, kita pun dapat menikmatinya.

Namun, buku ini lemah dalam penyajian dialognya। Dialog yang berlangsung antartokohnya terkesan monolog। Respon, gestur, ekspresi, dan posisi komunikati sebagai lawan bicara terabaikan। Padahal, penyajian dialog yang menampilakan reaksi langsung pelaku komunikasi akan membuat cerita lebih hidup dan menggigit.

Akan tetapi, kelemahan itu tidak mengurangi keelokan kisah cinta ini. Kisah Laila Majnun tetap indah untuk dibaca, apalagi jika kisah ini dihadiahkan kepada orang yang kita kasihi. Karena di dalamnya, kita dapat menemukan hakikat cinta sesungguhnya—cinta antara manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya.


Nita

08 Desember 2007

Dah... Hantu!


Akhirnya, hantu-hantu itu pergi juga. Walau, satu atau dua masih saja bergentayangan. Padahal beberapa waktu lalu, makhluk ini sempat menguasai sebuah gedung bioskop yang tidak dapat disebut namanya. Namun yang jelas, bioskop ini berada di tengah kawasan pendidikan Jatinangor.

Ada banyak jenisnya. Ada sundel yang punggunya bolong. Ada suster yang jalannya ngesot. Ada si boneka kayu, jelangkung. Ada juga yang jauh-jauh datang dari pulau berhantu. Mereka berreuni di bioskop yang terbilang baru tersebut.

Sebenarnya, makhluk-makhluk ini juga sempat menguasai bioskop-bioskop lain di tanah air. Malah jenisnya lebih banyak lagi. Ada si cantik, kuntilanak. Ada si tuan misterius, pocong. Ada si buah asam, hantu jeruk purut. Dan, masih banyak lagi.

Dengan gaya mereka masing-masing, mereka berusaha meneror setiap penonton, memekakkan setiap pasang telinga, dan menyentak tiap jantung yang berdetak. Penonton pun menutup mata, menutup telinga rapat-rapat. Sebagian lagi menjerit. Sisanya, malah terkekeh-kekeh.
”Ah, lucu. Apaan sih enggak penting banget,” cerca penonton tak berselera horor tersebut.

Ada juga yang berkomentar:
”Ah enggak serem. Setannya cantik gitu. Kalau kaya gitu mah, gue juga mau,” gumam tipe penonton yang suka enggak tahan sama setan-setan Indonesia yang cantik dan seksi.

Inilah realitas perfilman horor nasional. Banyak dimaki-maki sama kritikus film maupun segenap masyarakat indonesia, tapi tetap banyak diproduksi dan ditonton juga sama segenap masyarakat Indonesia. Buah simalaka memang: dimakan salah, di-cuekin mubazier.

Bisnis film horor merupakan bisnis yang menguntungkan. Dengan biaya sedikit, tapi mampu mengeruk penonton. Apalagi jika film tersebut dibintangi oleh makhluk-makhluk yang melegenda. Seperti: kuntilanak, sundel bolong, dan teman-temannya yang ceritanya sering kita dengar semasa kecil. Bayang-bayang dari masa lalu ini semakin membuat bulukuduk kita berdiri.

Padahal, tak sedikit yang berkualitas sangat buruk. Lighting dibuat asal mencekam dan suara asal menggejutkan. Para hantunya dibuat ala Japan style. Minim biaya, minim pula kreativitas. Namun sekali lagi, tetap saja film tersebut mampu membuat penasaran penonton Indonesia. Tak heran jika para pembuat film berlomba-lomba memproduksi dan melempar film horor ini kepasaran.

Sikap para pembuat film ini juga tidak dapat disalahkan. Berbisnis film bukanlah perkara sepuluh atau duapuluh juta rupiah. Jika tidak pandai-pandai mengikuti trend pasar, ratusan juta atau miliaran rupiah bisa melayang. Namanya juga bisnis.

Namun, pembisnis film tersebut juga harus lebih peduli. Beredarnya film horor yang berkualitas rendah bisa menjadi bumerang bagi perfilman nasional. Masyarakat yang terus dijejali ’film asal ngagetin’ ini bakal sampai pada titik jenuh.

Hal ini dapat berdampak terhadap perfilman nasional secara general. Masyarakat bisa tidak percaya dengan film nasional. Dan buruknya lagi, film nasional yang baru bangkit pun bisa tertidur kembali. Karena hidup-matinya film, tidak lepas dari peran penonton.

Namun di sisi lain, film horor juga memiliki jasa dalam eksistensi perfilman nasional. Film ini mampu menggeser dominasi film asing di bioskop tanah air. Di salah satu bioskop di Jatinangor, misalnya, tiga dari lima studionya memutar film karya anak negeri: tiga film bergenre horor dan satu film bertema cinta.

Apapun yang bersifat mistis memang laku di Indonesia. Mungkin ini juga yang menyebabkan para hantu ini tak pernah benar-benar bisa meninggalkan bioskop di tanah air. Mereka masih saja bergentayangan, walau di satu studio saja. Tapi di satu studio itu, dijamin kita bakal bertemu TOP TEN-nya hantu Indonesia. Cukup dengan menonton FILM HOROR*.
*) Maaf, bukan maksudnya promosi nih. Aku juga belum menonton.
Kata iklan-iklan di TV sih bisa bikin ngakak. Mungkin sejenis Scary Movie kali ya.
Jadi, selamat menonton!


Nita