Akhirnya, hantu-hantu itu pergi juga. Walau, satu atau dua masih saja bergentayangan. Padahal beberapa waktu lalu, makhluk ini sempat menguasai sebuah gedung bioskop yang tidak dapat disebut namanya. Namun yang jelas, bioskop ini berada di tengah kawasan pendidikan Jatinangor. Ada banyak jenisnya. Ada sundel yang punggunya bolong. Ada suster yang jalannya ngesot. Ada si boneka kayu, jelangkung. Ada juga yang jauh-jauh datang dari pulau berhantu. Mereka berreuni di bioskop yang terbilang baru tersebut.
Sebenarnya, makhluk-makhluk ini juga sempat menguasai bioskop-bioskop lain di tanah air. Malah jenisnya lebih banyak lagi. Ada si cantik, kuntilanak. Ada si tuan misterius, pocong. Ada si buah asam, hantu jeruk purut. Dan, masih banyak lagi.
Dengan gaya mereka masing-masing, mereka berusaha meneror setiap penonton, memekakkan setiap pasang telinga, dan menyentak tiap jantung yang berdetak. Penonton pun menutup mata, menutup telinga rapat-rapat. Sebagian lagi menjerit. Sisanya, malah terkekeh-kekeh.
”Ah, lucu. Apaan sih enggak penting banget,” cerca penonton tak berselera horor tersebut.
”Ah, lucu. Apaan sih enggak penting banget,” cerca penonton tak berselera horor tersebut.
Ada juga yang berkomentar:
”Ah enggak serem. Setannya cantik gitu. Kalau kaya gitu mah, gue juga mau,” gumam tipe penonton yang suka enggak tahan sama setan-setan Indonesia yang cantik dan seksi.
”Ah enggak serem. Setannya cantik gitu. Kalau kaya gitu mah, gue juga mau,” gumam tipe penonton yang suka enggak tahan sama setan-setan Indonesia yang cantik dan seksi.
Inilah realitas perfilman horor nasional. Banyak dimaki-maki sama kritikus film maupun segenap masyarakat indonesia, tapi tetap banyak diproduksi dan ditonton juga sama segenap masyarakat Indonesia. Buah simalaka memang: dimakan salah, di-cuekin mubazier.
Bisnis film horor merupakan bisnis yang menguntungkan. Dengan biaya sedikit, tapi mampu mengeruk penonton. Apalagi jika film tersebut dibintangi oleh makhluk-makhluk yang melegenda. Seperti: kuntilanak, sundel bolong, dan teman-temannya yang ceritanya sering kita dengar semasa kecil. Bayang-bayang dari masa lalu ini semakin membuat bulukuduk kita berdiri.
Padahal, tak sedikit yang berkualitas sangat buruk. Lighting dibuat asal mencekam dan suara asal menggejutkan. Para hantunya dibuat ala Japan style. Minim biaya, minim pula kreativitas. Namun sekali lagi, tetap saja film tersebut mampu membuat penasaran penonton Indonesia. Tak heran jika para pembuat film berlomba-lomba memproduksi dan melempar film horor ini kepasaran.
Sikap para pembuat film ini juga tidak dapat disalahkan. Berbisnis film bukanlah perkara sepuluh atau duapuluh juta rupiah. Jika tidak pandai-pandai mengikuti trend pasar, ratusan juta atau miliaran rupiah bisa melayang. Namanya juga bisnis.
Namun, pembisnis film tersebut juga harus lebih peduli. Beredarnya film horor yang berkualitas rendah bisa menjadi bumerang bagi perfilman nasional. Masyarakat yang terus dijejali ’film asal ngagetin’ ini bakal sampai pada titik jenuh.
Hal ini dapat berdampak terhadap perfilman nasional secara general. Masyarakat bisa tidak percaya dengan film nasional. Dan buruknya lagi, film nasional yang baru bangkit pun bisa tertidur kembali. Karena hidup-matinya film, tidak lepas dari peran penonton.
Namun di sisi lain, film horor juga memiliki jasa dalam eksistensi perfilman nasional. Film ini mampu menggeser dominasi film asing di bioskop tanah air. Di salah satu bioskop di Jatinangor, misalnya, tiga dari lima studionya memutar film karya anak negeri: tiga film bergenre horor dan satu film bertema cinta.
Apapun yang bersifat mistis memang laku di Indonesia. Mungkin ini juga yang menyebabkan para hantu ini tak pernah benar-benar bisa meninggalkan bioskop di tanah air. Mereka masih saja bergentayangan, walau di satu studio saja. Tapi di satu studio itu, dijamin kita bakal bertemu TOP TEN-nya hantu Indonesia. Cukup dengan menonton FILM HOROR*.
*) Maaf, bukan maksudnya promosi nih. Aku juga belum menonton.
Kata iklan-iklan di TV sih bisa bikin ngakak. Mungkin sejenis Scary Movie kali ya.
Jadi, selamat menonton!
Nita
Kata iklan-iklan di TV sih bisa bikin ngakak. Mungkin sejenis Scary Movie kali ya.
Jadi, selamat menonton!
Nita
5 komentar:
ha ha ha...
betul itu si sundel bolong cakep bener. sapapun mau memiliki "hantu" macam begitu.
sebenarnya miris juga sih kalo kita selalu nonton horor yang diangkat dari urband legend gitu, soalnya nanti kita bakal terus-terus mikir kalo di INDONESIA ini hantunya cantik-cantik, ups..bukan gitu maksudnya.
jadi kalo yang tampil selalu hantu nanti kita baka selalu ketakutan untuk melakukan sesuatu. contohnya gw aja, suka parno berlebihan. liat "tarian" aja bikin gw ngebayangin salah satu adegan film horor Idonesia yang hantunya cantik itu.
lagi pula yah...kalo bikin film horor terus nanti lama-lama ga bakalan ada FESTIVAL FILM INDONESIA lagi. soalnya agak susah yah untuk film horor untuk masuk dalam nominasi FFI.
hayooo, sapa mau yang kalo perfilman kita mati suri lagi, atu mungkn mati beneran?
maka dari itu tidak usah nonton film horor lagi...
ha..
ha...
ha....
santailah...kalo mang suka mah nonton aja. eike tidak memaksa kok...
piss ah...
hai...
kalo gw sih gak pernah tuh nonton film horor indonesia ( jailangkung for exception, cos saat itu lg getol2 nya dukung kebangkitan film nasional). sama sekali gak nafsu lah. efeknya cupu, ceritanya jg std abiss.
mungkin maraknya film horor itu karena si bos2 produser itu blajar dr pengalaman masa lalu. Lu smua inget dong gimana digdaya nya seorang SUZANNA.
kalo emang bos2 itu bener2 blajar, berarti bisa ditunggu kedatangan formasi baru WARKOP (baca: grup humor) . Atau malah titisan2 Sally Marcelina, Inneke K, dkk (hehehe... ini sih gw yg ngarep).
Kalo mang bisa bener2 ada 2 hal itu ,Gw yakin bakal bergairah lagi p'filman INdo. cos Selera penonton Indonesia kan 3H (Horor, Humor, dan Horni)
wakakakakaka.
gitu ja dr gw ins...
firEman.
film horor....
wah, kayanya bakalan ada sekolah yang murid2nya khusus hantu...
gila kalau kita mau ngabsen, pastinya panjang banget deretannya...
gw bingung aja, kayanya banyak banget hantu yang baru gw dengar2 sekarang.
kaya kuntilanak merah....kerena banget ga sih, ada jenisnya gitu...
trus hantu pondok indah, hantu kentang....tambah konyol lagi.
ada lagi, tapi kayanya belum ada filmnya, hantu cekik...
gilingan ga sih
sumpah!orang indonesia kreatif mampus!
gw rasa film horor kita masih menunggu jenis hantu baru apalagi yang bakal muncul...
terus kreatif ya
hahahahaha
Wajar saja jika film2 horor jadi trend belakangan ini. Naluri bisnis mereka(produser dan sponsor)dapat mencium selera masyarakat Indonesia yang masih percaya pada hal gaib.
Cukup dengan kualitas produksi dan akting yang seadanya, keuntungan pun mengalir.
-Ryan oh Ryan-
hihihihihihihihihi..........
banyak hantu di mana-mana...
wah buat gw film horor itu menarik.
menariknya dari sisi subjektif gw adalah ...
klo film horor itu bisa mainin adrenalin kita...
dan sejauh yang gw tahu, asal usul pembuatan film horor selain dari sisi komersil, mereka juga memang masih pengen membuat masyarakat bumi pertiwi ini yakin dan percaya klo hal-hal mistis tu ada di sekeliling kita.
memang kehadiran film horor tak lepas dari atmosfer masyarakat Indonesia yang kental dengan animisme dan dinamisme.
tapi buat gw, nonton film horor itu mengasikkan. emang banyak yang bilang gw selalu ribut pas nonton, tapi itulah esensi nonton film horor. sekali lagi ESENSI NONTON ya.,..cuma emang banyak yang ga berkualitas. tapi tetap aja serem buat gw..
yang penting dibenahi adalah kualitas, bener tu kata nita,,,,
yah hidup film horor deh, asalkan cuma film ya, ga horor bneran...oce
-sincerely-
jawa
Posting Komentar