Dengan langkah terseok-seok, Majnun mengarungi kota hingga gurun sambil mengidungkan syair-syair cinta dan patah hati। Air matanya pun tak henti-hentinya terurai mengiringi bait demi baitnya. Tak sedikit orang yang merasa iba. Tak sedikit pula yang merasa hina. Tapi, laki-laki itu tidak peduli apa kata orang-orang tersebut. Karena sesungguhnya, ia merasa telah binasa oleh api cintanya, Laila.Di belahan gurun pasir lain, Laila pun tak jauh berbeda। Ia juga telah menjadi gila. Dalam limpahan harta dan kasih sayang, ia merasa percuma karena sang kekasih jauh dipangkuannya. Tak seorang pun tahu derita Laila. Derita itu terselip indah di balik senyumnya yang konon mampu menaklukan sebuah negeri. Namun, Laila memilih pedih kobaran api cintanya, Majnun.
Kegilaan Majnun dan Laila bukanlah karena cinta, tapi karena logika orang-orang di sekitarnya। Logika yang memandang cintanya adalah aib। Logika yang lebih memilih untuk memisahkan mereka, bukan mepersatukan dalam ikatan yang lebih indah, walimah. Ironisnya, Logika itu malah menjadi tabir dua insan yang saling mencinta. Dan, Logika itu pulalah yang mengantarkan kisah kasih abadi ini di rak-rak buku kita. Laila Majnun.
Laila Majnun merupakan epik yang melegenda di bangsa Arab। Cerita ini turun-temurun dan terus hidup, tanpa tahu siapa yang melahirkannya. Sehingga, kisah percintaan ini berkembang dalam berbagai versi: prosa, puisi, dan lagu. Bahkan konon, kisah romantis Romeo and Juliet yang merupakan buah pikiran Shakespear ini juga terilhami oleh ketragisan kisah cinta Laila Majnun.
Agar terabadikan, kisah Laila Majnun ini dibukukan pada abad kedua-belas atas titah seorang raja Kaukasia, Shirvanshah। Ia memerintahkan seorang penulis yang dikenal sebagai ‘penyihir’ keelokan kata-kata terhebat di dunia. Ia adalah Nizami Ganjavi, seorang sufi asal Persia.
Nizami menyirami kisah Laila Majnun dengan gaya bahasa yang melangit sekaligus menjuntai ke tanah। Buku ini pun menjadi subur akan ungkapan-ungkapan yang menyentuh, indah, dan konotatif। Sehingga, pembaca akan terhanyut oleh ombang-ambing emosi tokoh-tokohnya. Walaupun syarat akan makna konotatif, buku ini tetap ringan untuk dicerna dan sangat cocok untuk dibaca kapan saja. Di sela-sela kepadapatan aktivitas, kita pun dapat menikmatinya.
Namun, buku ini lemah dalam penyajian dialognya। Dialog yang berlangsung antartokohnya terkesan monolog। Respon, gestur, ekspresi, dan posisi komunikati sebagai lawan bicara terabaikan। Padahal, penyajian dialog yang menampilakan reaksi langsung pelaku komunikasi akan membuat cerita lebih hidup dan menggigit.
Akan tetapi, kelemahan itu tidak mengurangi keelokan kisah cinta ini. Kisah Laila Majnun tetap indah untuk dibaca, apalagi jika kisah ini dihadiahkan kepada orang yang kita kasihi. Karena di dalamnya, kita dapat menemukan hakikat cinta sesungguhnya—cinta antara manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya.
Nita
3 komentar:
haloo...
cinta memang aneh...
drama percintaan pun aneh.
hanya karaena adat, kelas sosial, warna kkulit, ataupun hal lainnya bisa aja cinta yang kita anggap sejati tiba-tiba bisa hancur. kacaulah pokoknya...
kalo boleh ngutip, kata Leila S Chudori dalam reviewnya tentang film "Becoming Jane", masalah kelas dalam percintaan merupakan hal klasik yang akan terus abadi.phiuhh...berat...
tapi bukan begitu adanya?
selamat mencari cinta, dan semoga cinta yang telah didapatkan tidak akan membuat kita gila.semoga kita tidak menjadi MAJNUN.
wuihh....
lu baca buku ginian juga yah..wakakak.
kalo ini sih gw gak bisa komen banyak.
menurut gw knapa 2 orang ini gak bs bersatu adalah karena namanya :
Laila = malam
Majnun = gila
ya gak nyambunglah.... gimana bisa bersatu tu orang.
mungkin ceritanya laen kalo nama si majnun diganti jd Nahar. kan jadi asik tuh :
cewe >< Cowo
laila >< nahar
malam >< siang
hehehehe.....
just kidding, cos gak ngerti sastra
gitu ja dr gw ins...
firEman.
Posting Komentar