01 Januari 2008
Penjual Racun Laris Manis di Pasaran
Mungkin anda semua sudah tahu bahwa akhir-akhir ini media massa sering dimarakkan dengan berita penemuan produk ilegal। Mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetik. Asal tahu aja, untuk mengantisipasi masalah ini, setiap tahunnya BPOM mengadakan sosialisasi dan menyebarkan Public warming agar masyarakat mengetahui produk ilegal apa saja yang beredar dipasaran. Namun anehnya, produk semacam ini selalu laris manis dan masyarakat tetap cuek dan terus mengonsumsinya. Kenapa bisa begitu? kemungkinan besar yang terjadi disini adalah masalah kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi suatu produk belum begitu tinggi. Masalah itulah yang membuat produk-produk ilegal terus menjamur di pasaran. Produk impor yang masuk secara ilegal kini diperkirakan mencapai 400 item dengan berbagai bentuk dan merek.
Kebanyakan produk ilegal tersebut berasal dari Cina, mulai dari obat-obatan, makanan, hingga kosmetik। Pada produk kosmetik sendiri banyak dijumpai kandungan hidroquinon dan merkuri. Begitu pula obat-obatan Cina yang banyak tak memiliki izin edar sehingga kandungan dan khasiatnya tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Sebenarnya bukan kali ini saja industri pangan dan obat Cina bermasalah. Pada 2000, dunia sempat dibuat heboh karena ditemukannya beras yang dicampur dengan minyak agar tampak lebih segar dan putih. Empat tahun kemudian di wilayah Anhui, Cina sedikitnya 13 bayi meninggal akibat mengonsumsi susu bayi palsu yang tak memiliki kandungan gizi. (sumber: Tim Sigi)
Produk asal Cina yang menyebar di Indonesia tidak hanya di kota besar tapi juga hingga ke pelosok। Hal inilah yang sangat dikhawatirkan, betapa tidak, kebanyakan masyarakat desa tidak paham dan sadar dalam mengonsumsi suatu produk. Dengan harga yang relatif murah konsumen pun tanpa pikir panjang bersedia mengonsumsinya.
Di Karawang contohnya, banyak toko kosmetik yang menjual produk buatan Cina (yang masuk kedalam daftar global warming yang diedarkan oleh BPOM) dengan santainya। Walaupun sering dilakukan razia, tetap saja mereka tidak pernah merasa kapok. Masalahnya gampang banget, cukup membayar uang sebanyak lima juta rupiah saja maka bebas perkara. Banyak oknum juga yang membantu agar para produsen tersebut lolos dari razia. Bukan hanya itu, tidak sedikit pula penjual kosmetik tersebut mengaku bahwa produk yang mereka jual adalah hasil racikan sendiri. Dengan alat apa adanya, dan dengan kebersihan yang apa adanya juga, bahan tersebut diracik dengan beberapa campuran kosmetik lainnya, seperti kelly, salep walet, dan bedak tabur viva. Mereka juga mengaku bahwa bahan yang didapatnya berasal dari Cina.
Menurut data yang saya dapat dari BPOM, sebenarnya sebelum impor dilakukan pengusaha harus membawa sampel produk untuk diuji kandungannya dan diberi nomor registrasi oleh Direktorat Sertifikasi Pangan BPOM। Untuk setiap produk makanan impor yang dinyatakan aman akan diberi kode uji edar ML (makanan luar/impor).
Produk yang beredar dipasaran harus melawati tahapan Primarket dan Postmasket. Primarket yaitu sebelum diedarkan produk tersebut harus didaftarkan terlebih dahulu, ijin produksi dan ijin konsumsi, harus di uji dilaboratorium, dan memiliki no. Regristrasi yang asli dari BPOM, ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui oleh suatu produk sebelum dipasarkan. Jika itu sudah dipenuhi oleh produsen barulah produk tersebut sah beredar dipasaran. Setelah beredar dipasaran kami melakukan tahapan postmarket, yaitu mengadakan sampling kelapangan.
Dampak yang di akibatkan oleh produk ilegal tidak semuanya langsung terlihat ketika kali pertama memakainya, hal ini tergantung dengan kondisi tubuh si pemakai। Penyakit yang akan ditimbulkan akibat mengonsumsi produk semacam ini seperti gangguan ginjal, kanker kulit, hingga gangguan janin.
Melihat masih banyaknya produk tanpa registrasi di pasaran, kemungkinan penyebabnya disini yaitu adanya penyelundupan produk, pemalsuan surat izin edar dan nomor registrasi BPOM, dan pemberian izin impor tanpa memenuhi persyaratan izin edar atau pemalsuan produk di dalam negeri।
Sekarang ini produk yang sudah mempunyai merek internasional saja bisa dipalsukan। Canggihnya pemalsuan produk seperti ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi, sampai-sampai konsumen susah membedakan mana produk yang asli dan palsu. Makanya, untuk menghindari hal itu kita mesti teliti sebelum membeli suatu produk. Pertama yang mesti kita perhatikan yaitu lihatlah kemasannya, apakah terdapat daftar registrasi dari BPOM atau tidak. Setelah itu telusuri komposisinya, biasanya produk yang ilegal tidak mencantumkan komposisi, dan yang terakhir lihat cara pemakaian. Sebenarnya hal sepele semacan ini pun cukup membantu kita agar tidak terjebak dalam mengonsumsi suatu produk.
Cara penyimpanan juga sangat berpengaruh dalam menjamin kualitas suatu produk। Untuk kosmetik, Ada ketentuan masa simpannya, jika suatu produk bisa dikonsumsi melebihi 30 bulan, biasanya produsen tidak mencantumkan tanggal kaldaluarsanya, dan jika kurang dari 30 bulan, biasanya tanggal kaldaluarsanya terlampir dalam kemasan.
Impian menjadi cantik, memang dambaan semua wanita. Untuk itu, kita harus pintar dalam memilah produk kosmetik yang baik untuk dikonsumsi, karena sekarang banyak produsen yang menjual racun dengan rasa semanis madu.
Nova
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
6 komentar:
sekarang kan zamannya "generik" yah...
konsep dari obat generik kan kalo bisa dapet yang murah buat apa yang mahal. nah, mungkin banyak orang yang mendalami konsep generik ini maka banyak yang pake racun (baca:obat, kerena pada intinya obat adalah "racun" yang baik), gak masalah kalo pun nantinya akan menimbulkan penyakit. toh,s ekarang ini banyak kan yang menginginkan hasil instan. walaupun ujung-ujungnya kena kanker kult dan meninggal, bukankah kodrat setiap manusia untuk meninggal?
waduw mau cantik kok susah banget yah... untung eyke bukan tipe wece-wece yang gila mo cantik, walo eyke akuin nih tampang jauh dari standard cantik wong indonesia. (merendah ato mang kenyataan nih)gimana dung wong dah dikasih begini. yang penting PEDE!
bukan gitu bukan, ibu NOVA.
ngomong-ngomong... jangan-jangan ente juga konsumsi kosmetik ala beginian lagi?
yah pokoke ati2 ajah buat wece-wece yang gila cantik ala kosmetik. kalo mang mo kaya gitu jangan pelit2lah. mahal dikit ga pa2 lah. dari pada muke ente jadi korban.
makanya, kadang2 gw percaya ama yang bilang harga bicara kualitas.
hidup bodyshop! (maap ada sedikit pesan sponsor)
Yap. Kondisi ekonomi bikin barang murah (ups orang iklan gak boleh bilang murah, tapi ekonomis...) laris manis. Masalahnya produk seperti kelly dan teman-temannya sudah bertahun-tahun 'menghuni' pasar kosmetik di Indonesia, jadi, kadang konsumen kebingungan mana yang asli mana aspal.Yang penting kita harus bertanya kalau ada yang menjual kosmetik serupa dengan harga miring, menghadapi itu bukan harus tergoda justru berhati-hati...
Atas dasar alasan ingin meraup untung yang banyak mereka menghalalkan segala cara, termasuk membahayakan kesehatan bahkan jiwa orang lain. Bukan kemiskinan lagi yang dipertanyakan dalam kasus ini, tapi nurani.
-atsukuchi-
atsukuchi, atau tami?? gimana kalo sukseskan pake Tje Fuk yang alami itu?? hehe. BTW Body Shop punya produk pelangsing yang make sejenis kaktus warisan suku Bushman. Awalnya mereka ngasih timbal balik, tapi setelah The Body Shop ganti pemilik gak berlanjut..huff. Yah, sekali lagi nurani
-AkhirnyaAal-
dasar cewe....
knapa harus maksain jd cakep, apa adanya aja lah. padahal kita2 (cowo) gak terlalu mentingin tampilan luar, yg penting hati nya.*
dah lah ikutin aja peraturannya. jangan di sentuh tu kosmetik aneh. yah kalo luw (cewe2) pada gak peduli ama wajah lu, plg gak peduli lah pada wajah bumi. merkuri itukan tmasuk zat pencemar lingkungan .
so say no to merkuri, hidro.... (lupa) and GLOBAL WARMING
gitu ja dr gw ins...
firEman.
nb: buat cewe2 jgn dipegang omongan gw yah, hehehehe...
Melihat semua harga barang konsumsi miningkat, tentu saja para konsumen harus memiliki ”produk No 2” sebagai alternatif ditengah ketidakmampuan membeli konsumen dan hasrat membeli begitu besar. Meski produk tersebut membahayakan konsumen, harga yang murah lebih merayu hasrat untuk membeli. Hasrat membeli harus disesuaikan dengan kemampuan untuk membeli. Akhirnya hasrat untuk membeli mengalahkan kesadaran akan dampak negatif suatu produk.
Itulah slah satu dampak besarnya iklan mempengaruhi pola dan gaya hidup kita? Sebesar kita menganggap model iklan suatu produk adalah gambaran ideal manusia. Misalnya beberapa iklan produk kosmetik perempuan, mencitrakan perempuan ideal disitu dibentuk: berkulit putih, langsing, berambut panjang dst. Iklan berperan menyeragamkan identitas melalui penciptaan trend demi konsumsi produk yang akan dipasarkan.
Jangan heran jika konsumen memiliki kuasa atas konsumsi produk mereka (makanan, obat-obatan, kosmetik) tanpa memikirkan dampak negatif. Konsumen tidak akan berfikir lebih dalam mengenai legal atau ilegalnya suatu produk dengan atau tanpa alasannya. Konsumen hanya berfikir seberapa cepat suatu produk pemutih kulit membuat konsumen secantik model iklannya. Apalagi dengan label harga yang murah pada produk tersebut, tentu saja konsumen akan membelinya.
Para konsumen seakan tidak punya pilihan selain membeli tanpa memperhatikan dampak dari produk yang dikonsumsinya. Banyak produk-produk yang telah disahkan BPOM atau MUI memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan kita. Misalnya: mie instan yang sering kita konsumsi ternyata mengandung zat lilin yang berbahaya bagi tubuh kita jika dikonsumsi. Zat lilin yang terkandung pada mie tersebut digunakan sebagai pelapis lilin agar tetap awet. Pernahkah BPOM menginformasikan hal ini?
Jika produk ilegal berbahaya dapat lolos dipasaran dengan membayar lima juta rupiah, bagaimana dengan produk legal yang membahayakan bisa lolos dipasaran?
Wallahu’alam bishshawab...
-Ryan Hidayat-
Posting Komentar