“Pemenangnya adalah………desa Sukasenang!”
Seketika, tepuk puluhan pasang tangan penonton membahana. Mereka menyambut baik pengumuman tersebut, terlebih tiga bocah yang duduk di tengah penonton. Bocah-bocah berseragam SD (putih-merah) tersebut terlihat kegirangan. Sang guru yang mendampingi pun tak kalah sumeringahnya. Dengan langkah pasti, ketiga bocah tadi berjalan ke panggung untuk menerima penghargaan sebagai juara I lomba kliping (sepertinya tingkat SD).
”Ini berkat internet masuk sekolah kita,” kurang-lebih ungkap salah satu bocah.
Memang sudah sepantasnya jika segenap warga Desa Sukasenang berbangga hati. Bukan hanya karena memiliki bibit-bibit melek teknologi, tapi juga memiliki pemerintah yang melek akan kebutuhan warganya akan infomrasi. Bisa dikatakan, desa Sukasenang sudah tiga langkah lebih maju dibanding sebagian besar desa yang NYATA ada di atas bumi Indonesia. Seperti, Desa Sukamulnya Kecamatan Karang Tengah, Cianjur, Jawa Barat.
Walau namanya hampir serupa, tidak demikian dengan kondisinya. Sukamulya tidak memiliki akses internet di desanya maupun di sekolah-sekolah. Boro-boro internet, perpustakaan sekolah di Sukamulya saja amat memprihatinkan. Dari tiga SD yang ada di Sukamulya, hanya satu SD yang memiliki ruang perpustakaan. Itu pun hanya 2x2 meter dan digabung pula dengan ruang unit kesehatan sekolah (UKS), serta perkakas bangunan.
Bagaimana koleksi bukunya? Anda bisa menebak. Sebagian besar koleksinya adalah buku pelajaran yang sudah expired—kurikulum 1994. Buku-buku cerita yang justru disukai anak SD sangat minim jumlah. Sekalinya ada, kondisinya tak kalah memprihatinkan dengan ruangan perpustakaannya itu sendiri. Sebagian robek dan berdebu akibat tak pernah disentuh tangan manusia.
”Keuangan sekolah terbatas,” ucap ibu Kepala SD tersebut melihat kondisi perpustakaan ’apa-adanya’ ini.
Pihak sekolah bukannya menutup mata terhadap kebutuhan anak didiknya. Mereka cukup sadar akan tingginya manfaat sebuah ruang bernama perpustakaan. Oleh karena itu, mereka pernah mencoba ajukan proposal ke depdiknas, tapi tidak ada kejelasan. Padahal semenjak ada BOS, satu-satunya sumber dana sekolah adalah Depdiknas. Menurut guru di sana, untuk memperbaiki kelas yang bolong sana-sini saja proposal sulit di-acc.
Jadi ketika saya melihat iklan non-komersil yang menggambarkan kegembiraan warga Sukasenang karena internet sudah masuk desanya, saya hanya tersenyum kecut. Angan saya pun terpelanting ke desa tempat saya ber-KKN (kuliah Kerja Nyata) pada Juli-Agustus 2007.
Buat apa bicara internet, kalau buku yang lebih mudah diakses dan murah saja sulit disediakan. Dengan harga satu unit komputer, beratus-ratus eksemplar buku bisa diperoleh. Apalagi mengoperasikan internet, tidak semudah mengambil buku dari raknya dan membuka perhalaman. Membacanya bisa sambil duduk, tiduran, dan dibawa kemana-mana.
Kalau ada halaman yang ingin didokumentasikan bisa difotokopi dengan membayar Rp 100/lembar, tidak perlu di-print seperti internet. Dengan buku, tak perlu pula ’jago’ lebih dulu mengoperasikan komputer. Sebuah teknologi semutakhir apapun tak lebih dari sampah, jika sasaran pengguna teknologi tersebut tak memiliki pengetahuan tentang teknologi tersebut, temasuk cara menggunakannya.
”Palingan program internet ini cuma bisa dinikmati oleh sekolah-sekolah diperkotaan. Lagi-lagi untuk kota,” su’udzon saya menutup iklan yang disponsori oleh Telkom itu
Nita

7 komentar:
hahaha nit...
emang bener juga..
tadinya gue senyeum2 aja ngeliat iklan itu...(bagus deh..indonesia melek juga..)
ternyata gue juga gampang dikibulin...sama seperti sebagian besar rakyat indonesia (mungkin)..
yaaah gausa jauh2 kali nit...awal masuk fikom aja gue sangat apatis dengan perpustakaan fikom yg alhamdulillah syukur masih ada...
wi-fi yg setelah tim penguji akreditasi gada, tak terpasang lagi...
tapi membaik sih lama2...
internet mulai terpasang di perputakaan walau dengan satu komputer..
eh gabisa dugunain..kenapa yah?
trus katanya sekarang perpus udah ada nternet lagi..well..kita liat aja tahan berapa bulan..
perpus di sekolah SD?penting bgt!
DANA BOSS?haha kalo itu gue sih udah yakin bgt..gatau kemana kali tuh duit..
kita cuap2 aja terus anak bawang..
pemerintah MENDENGAR BGT kok...
Cita Cinta Indonesia
Wah, kalo gw ngebaca tulisan lo agak terpengaruh juga. Tetapi apa kita harus selalu pesimis (pasti lo ga mo ngaku pesimis kan?). si pembuat iklan itu mungkin saat ini sedang bermimpi. Mereka memimpikan sebuah desa yang sudah sadar teknologi internet. Salah enggak kalo ada yang bermimpi tentang itu.
Perasaan apatis lo terhadap pemerintah dan miris terhadap keadaan desa di Cianjur itu setidaknya bisa ikut gw rasakan. Soalnya gw juga pernah ngeliat daerah yang seperti itu. Tetapi, kita doakan bersama saja kalau mimpi si pembuat iklan itu akan menjadi nyata. Yah, kalau tidak dalam waktu dekat mudah-mudahan terealisasi di masa depan. Entah kapan. Tapi gw yakin pasti bisa terwujud.
Walt Disney bilang, “if you can dream it you can do it.” Mimpi Telkom itu pasti akan terwujud. Pasti.
Lo mau ikut mewujudkannya?
inget ga pas bagian anak kecilnya bilang, "Yah Bapak, kan ada internet..."lucu ya. ^_^
btw, gw jadi sedih. padahal gw tuh pengen banget jadi guru, berusaha memajukan pendidikan kita dari bawah...
kenapa masuk fikom ya...
pilihan yang salah...
kayanya lw lupa satu hal,kalau internet juga membawa banyak pengaruh buruk buat masyarakat...
jorang2 yang belum mampu untuk menerima sebuah teknologi baru takutnya malah akan memanfaatkan teknologi itu tidak sesuai dengan fungsinya...
semoga aja, ketika internet itu sudah datang,mereka juga siap.
kasian bgt tu desa sukamulya...
btw, menurut gw sebuah iklan walaupun tujuannya non komersil, pasti ada maksud tersirat dari si pembuatnya.
nah, iklan ini kan sponsornya telkom. jadi wajar aja kalo yg diangkat masalah internet (scara doi punya produk yg namanya telkomnet, speedy, dll).
Yah, mungkin kalo yg sponsorin gramedia, bisa jadi yg diangkat masalah perpustakaan. Malah mungkin masalah kekuatan konstruksi bangunan sekolah, kalo yg sponsorin Holcim.
Emang sih, internet masuk sekolah ini kayaknya baru bisa di terapin di kota2 doang. tapi paling gak, ada usaha dr pemerintah utk memajukan dunia pendidikan kita.
firEman
hmm..hmm..
bener nit, bukannya mw pesimis,, bukannya pengen suudzon. Tapi iklan itu emang kayanya agak kurang "Indonesia" banget..
soalnya, apa yg gw liat dan alamin di sukamulya kmaren itu emang brasa jauuuuuh bgd dr apa yg pemerintah (atau yg bikin iklan itu) cita-citain.
Kalo untuk dapet buku segitu banyaknya aja udah penuh perjuangan sebegitunya..
brarti klo mw bikin iklan itu jd sesuatu yg bukan jd skedar "iklan",, perjuangan kita masih teramat sangat panjang kawaan!!! hehe..
smangaat!!! ^0^
Tak perlulah kita berharap banyak dari pemerintah untuk kehidupan yang lebih baik. Hampir semua program pemerintah dibidang: pertanian, hukum, kesehatan, pendidikan, ekonomi, yang dibuat pemerintah untuk kesejahteraan rakyat miskin selalu jauh dari harapan yang baik. Alasanya berbagai macam: kurang sosialisasi, masyarakat Indonesia berada di pulau2 kecil, dananya dikorupsi pejabat pemerintah dst, dst.
Pemerintah tidak benar2 memahami kondisi/kebutuhan masyarakat Indonesia yang berbeda budaya, kondisi geografis, dan kebutuhannya. Para pemegang kebijakan hanya mementingkan kepentingan golongan, kelompok dan pribadi. Semua kebijakan selalu dipolitisir, mencari keuntungan. Seperti yang diceritakan seorang Profesor dari UPI dalam suatu obrolan: untuk mencairkan dana BOS yang menjadi hak sekolah, kepala sekolah harus memberikan sejumlah uang pada DPR . Miris!
Masyarakat sudah saatnya mengorganisir diri sendiri, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka rasakan. Saatnya kita mengendalikan hidup kita sendiri!!
-Ryan Hidayat-
nita tulisan ini mengingatkan pada adik-adik kj....terutama anak gw siIqbal dan Yaman...
Posting Komentar